Selasa, 30 Oktober 2012

Proposisi kategorik


1.      Pengertian
    Proposisi kategorik adalah suatu pernyataan yang terdiri atas hubungan dua term sebagai subjek dan predikat serta dapat dinilai benar atau salah. Hubungan ini berbentuk pengiyaan atau pengingkaran. Proposisi dalam logika dapat benar dapat juga salah, tidak dapat dinilai kedua-duanya. Dalam arti tidak dapat setengah benar atau setengah salah. Jika benar ya benar jika salah ya salah sehingga tegas perbedaan antara keduanya.
    Benar salahnya suatu proposisi dihubungkan dengan hal yang dibicarakannya. Jika yang dibicarakan tentang benda-benda alamiah maka kebenarannya adalah harus sesuai dengan kenyataannya (mengikut teori korespondens), dan jika yang dibicarakan hal atas dasar persetujuan bersama maka kebenarannya harus sesuai dengan hasil persetujuan tersebut (mengikuti teori koherensi). Jadi, benar salahnya suatu proposisi itu dihubungkan dengan isinya.
    Term sebagai subjek berhubungan dengan kuantitas proposisi. Subjek dibedakan antara subjek universal dan subjek partikular. Subjek universal adalah mencakup semua yang dimaksud oleh subjek, subjek partikular adalah hanya mencakup sebagian dari keseluruhan yang disebutkan oleh subjek. Subjek universal dalam pernyataan simbolik disertai dengan kuantor universal, dan subjek partikular dalam pernyataan simbolik disertai dengan kuantor eksistensial. Term sebagai predikat selalu berhubungan dengan isinya, dan merupakan kualitas proposisi, yang dibedakan antara predikat afirmatif dan predikat negatif. Predikat afirmatif adalah sifat mengiyakan adanya hubungan predikat dengan subjek, predikat negatif adalah sifat mengingkari adanya hubungan predikat dengan subjek atau sifat meniadakan hubungan subjek dengan predikat.

2.      Empat Macam Proposisi
    Proposisi kategorik merupakan pernyataan yang terdiri atas hubungan dua term sebagai subjek dan predikat, dan secara sederhana dibedakan atas empat macam, yaitu: proposisi universal afirmatif, proposisi universal negatif, proposisi partikular afirmatif, dan proposisi partikular negatif. Dari empat macam proposisi kategorik berdasarkan denotasi atau luas term yang dihubungkan, dapat dibedakan menjadi tujuh macam proposisi kategorik.
Proposisi universal afirmatif ialah pernyataan bersifat umum yang mengiyakan adanya hubungan subjek dengan predikat, dirumuskan berikut ini. “Semua S adalah P”. Proposisi universal afirmatif, berdasarkan perbandingan luas term, dapat dibedakan atas dua macam: universal afirmatif ekuivalen dan universal afirmatif implikasi.
Proposisi universal negatif ialah pernyataan bersifat umum yang mengingkari adanya hubungan subjek dengan predikat, dirumuskan: “semua S bukan P”. Proposisi universal negatif berdasarkan perbandingan luas term, hanya ada satu bentuk, yaitu berbentuk eksklusif sehingga lengkapnya disebut universal negatif eksklusif, yaitu pernyataan umum mengingkari yang berarti antara subjek dan predikat tidak ada hubungan, misalnya semua rakyat Indonesia tidak mengikuti ajaran komunis.
Proposisi partikular afirmatif ialah pernyataan bersifat khusus yang mengiyakan adanya hubungan subjek dengan predikat, dirumuskan: “sebagian S adalah P”. Proposisi partikular afirmatif berdasarkan perbandingan luas term, dapat dibedakan atas dua macam: partikular afirmatif inklusif dan partikular afirmatif implikasi.
Proposisi partikular negatif ialah pernyataan bersifat khusus yang mengingkari adanya hubungan subjek dengan predikat, dirumuskan: “sebagian S bukan P”. Proposisi partikular negatif berdasarkan perbandingan luas term terdapat dibedakan atas dua macam: partikular negatif inklusif dan partikular negatif implikasi.
Proposisi Kategorik dan Tunggal : Proposisi tunggal dalam penalaran kategogik erat hubungannya dengan proposisi kategorik, didefinisikan “pernyataan yang terdiri atas satu term sebagai predikat sesuatu yang dapat dinilai benar atau salah”. Berdasarkan definisi ini maka subjek dari proposisi tersebut bukanlah suatu term atau konsep karena tidak merupakan suatu himpunan. Dan perbedaan pokok dengan proposisi kategorik adalah, dalam proposisi tunggal subjeknya bukan suatu term karena dianggap sudah jelas, sedang proposisi kategorik subjeknya adalah suatu term yang cirinya dapat diungkapkan dalam bentuk himpunan sebagai denotasinya. Proposisi tunggal dapat bermula dari proposisi kategorik yang sudah jelas subjeknya, kemudian hanya dinyatakan predikatnya saja. Dan dapat juga proposisi tunggal dari bentuk proposisi kategorik yang kedua term sebagai subjek dan predikatnya dijadikan satu kesatuan sebagai predikat.


1.     Pendahuluan
    Dalam logika dipelajari aturan yang harus diperhatikan untuk dapat berfikir dengan tepat, teliti, dan teratur agar mencapai kebenaran. Logika melatih kita untuk menganalisis suatu jalan pikiran, menguji kesimpulan-kesimpulan yang ditarik dan kepastian yang dapat dicapai sehingga kita dapat membedakan pemikiran yang tepat dan benar dari yang kacau serta salah.
2.     Silogisme
    Silogisme adalah proses logis yang terdiri dari tiga bagian. Dua bagian pertama merupakan premis-premis atau pangkal tolak penalaran silogistik. Sedangkan bagian ketiga merupakan perumusan hubungan yang terdapat antara kedua bagian pertama melalui pertolongan term penengah (M). bagian ketiga ini disebut juga kesimpulan yang berupa pengetahuan baru (konsekuens). Proses menarik suatu kesimpulan dari premis-premis tersebut disebut penyimpulan.
Suatu premis adalah suatu pernyataan yang dirumuskan sedemikian rupa sehingga pernyataan tadi menegaskan atau menolak bahwa sesuatu itu benar atau tidak benar. Suatu premis dapat mengatakan suatu fakta, suatu generalisasi, atau sekedar suatu asumsi atau sesuatu yang spesifik.
3.     Silogisme Kategoris
        Silogisme Kategoris adalah struktur suatu deduksi berupa berupa suatu proses logis yang terdiri dari tiga bagian yang masing-masing bagiannya berupa pernyataan kategoris pernyataan tanpa syarat. Sebagai suatu bentuk logis yang sudah baku, silogisme kategoris bermakna sekali dalam percakapan sehari-hari, diskusi,buku dan pidat,jalan pikiran kita jarang dirumuskan dalam bentuk silogisme. Tetapi begitu masalah mengapa dipersoalkan, maka orang akan mencari alasan-alasannya. Disinilah bentuk silogisme kategoris dapat membantu menunjukkan jalan atau tahap-tahap penalarannya. Misalnya, apabila seseorang ditanya,”mengapa korupsi itu haram?” maka akan dicari alasannya, dan kemudian berkata” karena korupsi adalah mencuri.” Jika kemudian diberi bentuk logis, maka dapat diperoleh silogisme sebagai berikut: ( Mencuri itu haram,Korupsi adalah mencuri,Maka korupsi adalah haram )
4.     Bentuk Silogisme kategoris
Dengan memperhatikan kedudukan term pembanding (M) dalam premis pertama maupun dalam premis kedua, silogisme kategoris dapat dibedakan antara empat bentuk atau empat pola, yakni sebagai berikut:
Silogisme Sub-Pre, suatu bentul silogisme yang term pembandingnya dalam premis pertama sebagai subjek dan dalam premis kedua sebagai predikat, misalkan contoh : Semua manusia akan mati. Socrates adalah manusia. Jadi, Socrates akan mati
Silogisme Bis-Pre, suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya menjadi predikat dalam kedua    pesimis. Contoh: Semua orang yang berjasa terhadap negara adalah pahlawan.Sukarno adalah pahlawan. Jadi, Sukarno adalah orang yang berjasa terhadap negara.
Silogisme Bis-Sub, suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya menjadi subjek dalam kedua premis. Contoh: Manusia adalah berbudaya.Manusia itu juga berakal budi. Jadi, semua yang berakal budi adalah berbudaya.
Silogisme Pre-Sub, suatu bentuk silogisme yang term pembandingnya dalam premis pertama sebagai predikat dan dalam premis kedua sebagai subjek. Contoh: Semua influenza adalah penyakit.Semua penyakit adalah menggannggu kesehatan. Jadi, sebagian yang mengganggu kesehatan adalah influenza.
5.     Kesimpulan
    Penerapan logika luas sekali, bukan hanya di bidang ilmu pengetahuan saja, tetapi diseluruh bidang kehidupan. Sebab sebagai makhluk yang berakal, kita harus lebih banyak mengamalkan akal sehat disegala bidang kehidupan, serta mendasarkan tindakan-tindakan kita atas pertimbangan yang masuk akal. Semoga kita mendapatkan ilmu yang bermanfaat.







1.     Pengertian Kesesatan
    Logika lahir salah satunya berusaha mencoba membantah pikiran-pikiran lain dengan cara menunjukan kesesatan penalarannya. Kesesatan penalaran ini ada yang disengaja ada pula yang tidak disengaja. Kesesatan yang tidak disengaja muncul sebagai bukti bahwa kemampuan berpikir manusia terbatas, atau karena ketidaksadaran pelaku itu. Istilah kesesatan merupakan terjemahan dar fallacia atau fallacy.
    kesesatan merpakan suatu akibat pengambilan konklusi yang bertentangan dengan pikiran yang logis. Soekadijo menyebutkan bahwa kesesatan dalam penalaran dapat terjadi karena yang sesa itu disebabkan oleh beberapa hal yang tampaknya masuk akal. Jika seeorang mengemukakan sebuah penalaran yang sesat dan dia sendiri tidak melihatnya sebagai sesuatu kesesatan, maka penalaran sesat seperti itu disebut paralogis. Sebaliknya, jika penalaran yang sesat itu sengaja dilakukan untuk menyesatkan orang lain disebut sofisme.
    Kesesatan dapat terjadi karena system atau sifat bahasa. Penalaran juga dapat sesat karena tidak adanya hubungan logis antara premis dengan konklusi. Kesesatan seperti ini disebut kesesatan relevansi mengenai materi penalaran. Oleh karena itu, soekadijo memisahkannya menjadi dua bagian yaitu kesesatan karena bahasa dan keesatan relevansi.
A.   Kesesatan karena Bahasa
    Bahasa pada dasarnya merupakan seperangkat kaidah atau sistem. Sebuah bahasa pada hakikatnya unik. Tidak ada dua bahasa yang memiliki sistem yang persis, betapa pun dekatnya rumpun atau kerabat bahasa tersebut. Namun, kesamaan yang utama adalah bahwa bahasa pada prinsipnya sebagai alat komunikasi yang terdiri atas lapisan fonem, morfem, kata, frasa, klausa, kalimat dan terbesar wacana. Satuan terkecil bahasa yang mampu mewadahi konsep secara lengkap sebenarnya kalimat. Dengan kalimatlah kita dapat menuangkan ide, pikiran, perasaan, kehendak atau hayal sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Namun satuan kita dapat dijadikan lambing sebuah konsep.
    Kata-kata dalam bahasa dapat mempunyai makna yang berbeda-beda. Sebuah kata dapat saja mempunyai makna sebanyak lima buah jika digunakan dalam lima kalimat. Oleh karena itu, makna sebuah kata yang sebenarnya terdapat dalam sebuah kalimat. Namun dalam kalimat sendiri, kadang-kadang kita dapat menginterpretasikan makna lebih dari satu. Tentu saja, semua ini akan dapat menimbulkan kesesatan.
B.   Kesesatan Relevansi
    Kesesatan relevansi timbul jika orang menurunkan suatu konklusi yang tidak relevan dengan premisnya. Maksudnya, secara logis konklusi tidak terkandung atau tidak merupakan imflikasi dari premisnya. Soekadijo, selanjutnya memaparkan bentuk-bentuk kesesatan relevansi yang banyak terjadi seperti berikut ini.
Argumentum ad hominem :Kesesatan ini terjadi jika kita berusaha agar orang lain menerima atau menolak sesuatu usulan, tidak berdasarkan alasan penalaran, akan tetapi karena alas an yang berhubungan dengan kepentingan si pembuat usul.
Argumentum ad Verecundiam atau Argumentum Auctoritatis :Kesesatan ini juga disebabkan oleh penolakan terhadap sesuatu tidak berdasarkan nilai penalarannya, akan tetapi karena disebabkan oleh orang yang mengemukakannya adalah orang yang berwibawa, dapat dipercaya, seorang pakar. Secara logis tentu dalam menerima atau menolak sesuatu tidak bergantung kepada orang yang dianggap pakar. Kepakaran, kepandaian, atau kebenaran justru harus dibuktikan dengan penalaran yang tepat. Pepatah latin berbunyi, “Tantum valet auctoritas, quantum valet argumentation” ; yang maknanya, ‘Nilai wibawa itu hanya setinggi nilai argumentasinya’.
Argumentum ad baculum : Baculum artinya ‘tongkat’. Maksudnya, kesesatan ini timbul kalau penerimaan atau penolakan suatu penalaran didasarkan atas adanya ancaman hukuman. Jika, kita tidak menyetujui sesuatu maka dampaknya kita akan kena sanksi.kita menrima sesuatu itu karena terpaksa, karena takut bukan karena logis.
Argumentum ad misericordiam : Penalaran ini disebabkan oleh adanya belas kasihan. Maksudnya, penalaran ini ditujukan untuk menimbulkan belas kasihan sehingga pernyataan dapat diterima. Argumen ini biasanya berhubungan dengan usaha agar sesuatu perbuatan dimaafkan. Misalnya, seorang pencuri yang tertangkap basah mengatakan bahwa ia mencuri karena lapar dan tidak mempunyai biaya untuk menembus bayinya di rumah sakit, oleh karena itu ia meminta hakim membebaskannya.
Argumentum ad populum :Argumentum populum ditujukan untuk massa. Pembuktian sesuatu secara logis tidak perlu. Yang diutamakan ialah menggugah perasaaan massa sehingga emosinya terbakar dan akhirnya akan menerima sesuatu konklusi tertentu. Yang seperti ini biasanya terdapat pada pidato politik, demonstrasi, kampanye, propaganda dan sebagainya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar